Manajemen SDM

Pembahasan manajemen sumberdaya manusia di suatu perusahaan/syarikah sesungguhnya merupakan bagian integral dari sebuah proses pembinaan menyeluruh yang menjadi tanggung jawab manajemen perusahaan guna memastikan terbentuknya SDM yang kafa’ah (cakap dan ahli), amanah (terpercaya) dan himmatul amal (beretos kerja tinggi). Pembinaan yang dimaksud bertumpu pada tiga aspek: (1) syakhshiyyah Islamiyyah atau kepribadian Islamnya, (2) skill atau keahlian dan keterampilannya, dan (3) kepemimpinan dan kerjasama timnya.

Pembinaan Syakhshiyyah Islamiyyah

a. Pengertian Syakhshiyyah Islamiyyah

Syakhshiyah Islamiyah atau kepribadian Islam adalah perpaduan antara aqliyah Islamiyah (cara berpikir Islami) dan nafsiyah Islamiyah (sikap jiwa Islami). Aqliyah Islamiyah adalah berpikir dengan asas Islam, atau berpikir dengan menjadikan Islam satu-satunya sebagai standar umum (miqyas ‘am) bagi segala pemikiran tentang kehidupan. Sedangkan nafsiyah Islamiyah, adalah sikap jiwa yang menjadikan segala kecenderungan (muyul) berpedoman dengan asas Islam, atau sikap jiwa dengan menjadikan Islam satu-satunya sebagai standar umum (miqyas ‘am) bagi segala pemuasan kebutuhan manusia (An Nabhani, 1994).

Dalam berbagai nash Al Qur`an dan As Sunnah, akan dapat ditemukan bagaimana Islam memerintahkan para penganutnya untuk memiliki aqliyah Islamiyah, yakni memandang fakta dengan standar Aqidah Islamiyah. Misalnya, suatu saat pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah SAW yang bertepatan dengan meninggalnya Ibrahim, putera Beliau. Saat itu orang-orang mengatakan bahwa gerhana matahari terjadi karena meninggalnya Ibrahim. Maka berkatalah Rasulullah SAW :

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah tanda-tanda kekuasaan Allah. Tidaklah keduanya mengalami gerhana karena mati atau hidupnya seseorang.”

Dengan sabdanya itu, Rasulullah SAW telah membimbing cara berpikir shahabat untuk berpikir Islami, yaitu menjadikan Aqidah Islamiyah sebagai standar berpikir untuk menilai segala sesuatu. Rasulullah SAW telah mengarahkan pemikiran para shahabat untuk memandang bulan dan matahari serta segala sifat-sifatnya – seperti terjadinya gerhana pada keduanya – sebagai tanda keberadaan dan kekuasaan Allah, bukan sebagai benda yang dipengaruhi atau mempengaruhi perjalanan nasib seseorang. Dengan kata lain, Rasulullah SAW telah mengkaitkan alam semesta dengan Aqidah Islamiyah, sesuai firman Allah SWT :

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang berakal”
(QS Ali Imran : 190)

Selain itu dapat dijumpai pula berbagai nash Al Qur`an dan Al Hadits yang bertujuan untuk membentuk nafsiyah Islamiyah, yaitu kecenderungan terhadap sesuatu yang selalu terkait dengan Aqidah Islamiyah. Allah SWT telah berfirman :

“Katakanlah, ’Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) jihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.”
(QS At Taubah : 24)

Rasulullah SAW bersabda :

“Tidak beriman (dengan sempurna) seseorang dari kalian sampai diriku lebih kalian cintai dari anaknya, bapaknya, dan semua manusia.”

“Tidaklah beriman (dengan sempurna) salah seorang di antara kalian hingga hawa nafsunya tunduk kepada apa yang kubawa (Islam).”
(HR. Imam Nawawi)

b. Pembentukan Syakhshiyyah Islamiyyah

Pembentukan syakhshiyah Islamiyah (takwin asy syakhshiyah Islamiyah) dalam diri seseorang ditempuh melalui 2 (dua) tahapan. Pertama, mewujudkan atau menanamkan aqidah Islamiyah kepada diri seseorang agar dia jadikan aqidah atau pandangan hidupnya. Kedua, membangun cara berpikir dan kecenderungan atas dasar Aqidah Islamiyah. Seorang muslim yang telah memiliki aqidah Islamiyah itu menjadikan aqidah Islamiyah itu sebagai landasan (qaidah) dalam melakukan proses berpikirnya sehingga dia memiliki pola berpikir Islami (aqliyah Islamiyah) sekaligus menjadikan aqidah itu sebagai landasan (qaidah) dalam mengatur dan mengendalikan tingkah lakunya serta keinginan-keinginannya (nafsiyah Islamiyah).

Setelah terbentuk syakhshiyah Islamiyah dalam diri seorang muslim bukan berarti dia terus diam berpangku tangan. Justru dia harus merawat dan membina syakhshiyah yang telah terbentuk itu. Sebab, pembentukan syakhshiyah itu sendiri bukan berarti pembentukan yang bersifat abadi yang kemudian tidak bisa berubah-ubah lagi. Tidak ada jaminan bahwa seorang muslim akan seterusnya ber-syakhshiyah Islamiyah. Faktanya, seseorang bisa saja mengalami perubahan aqidah atau penyimpangan kecenderungan. Kadang-kadang terjadi perubahan yang menyebabkan orang tersesat atau menjadi fasik lantaran dia berbuat maksiat. Karena itu, setiap detik dalam hidupnya seorang muslim harus terus memperhatikan dan mempertahankan cara berpikir dan kecenderungan atas dasar Aqidah Islamiyah.

Maka, jadikan perusahaan kita benar-benar sebagai wahana untuk menggapai bisnis yang penuh ‘berkat’ dan berkah, salah satunya dengan memastikan seluruh karyawan kita memiliki kepribadian Islam. Insya Allah.

Sumber : SEM Institute, Strategic and Marketing Research, Training and Consulting
dari buku Menggagas Bisnis Islami tulisan M Ismail Yusanto dan M Karebet Widjajakusuma

Catatan :
Hak cipta milik Allah Swt, karenanya jika dalam tulisan ini terdapat kebenaran dan kemaslahatan, maka dianjurkan untuk menyebarluaskannya sebagai amal jariyah. Tanpa perlu izin dari penulisnya. Jazakallahu

Komentar ditutup.